Wednesday, December 5

Memanjakan Orangtua Mempercepat Demensia (Pikun)

Memanjakan Orangtua Mempercepat Demensia (Pikun)

Memanjakan orangtua di masa tuanya tak selamanya berakibat baik. Melarangnya melakukan berbagai kegiatan, justru bisa mempercepat proses demensia, atau pikun di usia lanjut.


''Jangan sekali-kali berkata, 'ibu tidak usah masak, tidak usah belanja, tidak boleh ikut ke mal,' karena itu perilaku yang salah'', kata Kepala Sub Bagian Fungsi Luhur, Bagian Saraf FKUI/RSCM Prof dr Sidiarto Kusumoputro pada wartawan di sela-sela acara Seminar Sehari Kepikunan Zheimer dan Permasalahannya yang diselenggarakan RS Islam Jakarta, Sabtu [19/5].

Justru seharusnya, para orang tua diberi jadwal aktivitas sehari-hari. Karena dengan terus menerus melakukan aktivitas, otak kiri dan kanannya akan selalu difungsikan. Dan ini bisa mencegah demensia ini. Otak kiri, terang Prof Sidi, adalah otak 'pintar'. Cara perangsangannya adalah dengan membaca, atau belajar bermacam-macam ilmu. Sedangkan otak kanan adalah 'pelayan' yang tugasnya melayani kehidupan manusia. Cara merangsangnya adalah dengan komunikasi, imajinasi, sosialisasi, spiritualisasi, musik atau seni, dan emosi (perilaku atau kepribadian).

Menurut Psikiater FKUI/RSCM dr Martina Wiwie S. Nasrun, demensia adalah penurunan atau gangguan fungsi memori/daya ingat dan daya pikir lainnya, yang terjadi perlahan-lahan. Semakin lama tingkat keparahan orang yang terkena demensia akan semakin memburuk dan jelas-jelas mengganggu kinerja dan aktivitas kehidupan sehari-hari mereka. Anehnya, kata Martina lagi, masyarakat justru menganggap lumrah orang-orang yang mengalami demensia ini. Padahal itu tidak benar. Karena ada banyak faktor yang bisa menyebabkan seseorang terkena demensia. Bisa karena penyakit Alzheimer, stroke, tumor otak, depresi, atau bisa juga karena gangguan sistemik seperti kelainan gizi, elektrolit, hormon, virus, atau kandungan alkohol.

Hal senada juga dikatakan Ketua Umum Asosiasi Alzheimer Indonesia dr Samino, SpS [K]. Katanya, masyarakat Indonesia masih banyak yang menganggap gejala kepikunan itu wajar-wajar saja. Padahal orang berusia lanjut itu bisa sukses, berprestasi dan bisa efektif. ''Seharusnya ada lomba membaca Alqu'ran pada usia lanjut. Hal ini untuk memberdayakan otak pada para usia lanjut,'' ujarnya.
 

Di luar negeri jumlah orang yang menderita demensia Alzheimer bisa mencapai 60 persen. Sedang demensia vaskuler [non alzheimer] dilaporkan sekitar 13 hingga 15 persen. Sedang jumlahnya di Indonesia belum diketahui. Ada kemungkinan demensia non Alzheimer jumlahnya lebih banyak dibanding Alzheimer sendiri. Soalnya dengan populasi penderita rata-rata berusia 65 hingga 70 tahun, kemungkinan sebelum mereka terkena Alzheimer sudah meninggal karena terkena penyakit lain.

Meskipun belum ada data pasti, kata Samino, ada kecenderungan meningkatnya penderita Alzheimer seperti yang dilaporkan oleh Asosiasi Alzheimer di Cabang Bandung, Surabaya, Medan. ''Memang ada trend peningkatan yang selama ini para dokter masih kurang in untuk menangani masalah Alzheimer,'' ujarnya.

Demensia Alzheimer, tandas Prof Sidi terjadi karena kematian saraf secara primer. Ini dimungkinkan karena penderita memang sudah berusia lanjut, atau mungkin juga dibawa oleh faktor genetik, atau kurang menggunakan otak secara maksimal. Untuk penyembuhannya pihak keluarga sangat berperan. Agar mereka yang sudah menunjukkan gejala-gejala pikun jangan sampai menjadi demensia Alzheimer. Apalagi masyarakat Indonesia masih menganut sistem keluarga luas (extended family), dimana seorang penyandang Alzheimer tidak akan dibiarkan kaliren, pasti ada yang menjamin.

Berbeda dengan di Eropa dan Amerika Serikat, dimana para penderita Alzheimer dimasukkan dalam institusi. Sehingga keadaannya akan lebih buruk lagi. Karena itu wajar bila jumlah penderita Alzheimer di Eropa dan Amerika Serikat bisa mencapai 60 persen, ujar Sidik.

No comments :

Post a Comment