Apakah Anda Termasuk Pria Millenium?

asevha

Pergerakan pria yang amat dipengaruhi oleh munculnya feminisme berkembang saat banyak pria mulai mencoba mencari cara untuk memenuhi tuntutan dari istri atau pasangan mereka yang lebih membutuhkan mereka sebagai mitra dan bukannya pelindung yang cenderung patriarkis. Pria diharapkan menjadi seorang ayah yang bersifat pengasih dan menjadi pasangan yang ekspresif secara emosional.

Perubahan dari seorang bocah lelaki menjadi seorang pria diawali dengan dimasukinya masa akil baliq, yang di negeri ini ditandai oleh beragam peristiwa, tergantung agama dan kebudayaannya; sunatan bagi mereka yang beragama Islam, mengikir gigi bagi pemuda Hindu, atau peristiwa lain. Namun secara faktual, seorang anak lelaki dikatakan memasuki masa akil baliq saat ia mengalami ‘mimpi basah’, yang selanjutnya akan diikuti dengan sejumlah perubahan pada tubuhnya, seperti peningkatan pertumbuhan yang drastis, suara membesar dan tumbuhnya jenggot dan bulu pada pubis dan ketiak. Pada saat itulah ia bisa mengatakan,"Hari ini aku telah menjadi seorang pria."

Sebelum mencapai masa itu, biasanya bocah tersebut -dan juga teman-teman sebayanya- telah dicekoki dengan dogma-dogma tentang bagaimana seharusnya sifat seorang pria dan caranya bersosialisasi, yang biasa disebut "ciri lelaki". Ciri tersebut meliputi sejumlah prototipe maskulinitas, seperti, "Pria itu harus kuat, bertubuh tegap dan mandiri, tak boleh menunjukkan kelemahan dan kerapuhannya; pria harus berani menentang bahaya, termasuk bila menyangkut hal-hal yang menjurus kepada kekerasan; pria harus mampu bersaing untuk meraih kekuasaan, status, dominasi, dan bersikap seolah-olah mampu mengatasi segalanya, bahkan bila kenyataannya tidak begitu; dan yang terpenting, pria tak boleh menunjukkan sisi femininnya, seperti sifat hangat, ketergantungan dan empati.

Sikap seperti ini, menurut Terence Real, wakil direktur Proyek Riset Gender Harvard University yang juga penulis buku best-seller I Don’t Want to Talk About It: Overcoming the Secret Legacy of Male Depression, dapat memicu perasaan kehilangan saat si bocah beranjak dewasa. Hal ini disebabkan oleh hilangnya kedekatan dengan ibunya, dengan aspek-aspek dirinya yang lain, juga dengan orang di sekitarnya, yang pada akhirnya membuat pria lebih rentan terhadap depresi. Tapi seiring dengan dimasukinya millenium baru, mungkin akan terjadi beberapa perubahan.

Pergerakan pria, yang telah berlangsung selama kurang lebih 20 tahun di Amerika Serikat dan muncul dalam berbagai bentuk, telah mulai membuahkan hasil. Pria-pria Amerika kini dengan susah payah berusaha memberi pengertian kepada anak laki-laki mereka bahwa ada banyak jalan untuk menjadi seorang pria sejati, sementara diri mereka sendiri tengah berjuang mengukuhkan jati diri mereka yang baru sebagai pria yang sesuai dengan kodrat alaminya, yaitu halus sekaligus tegar, pasif namun juga agresif, dan akrab sekaligus menjaga jarak.

Menurut Koalisi Nasional Pria Mandiri di Amerika, "Banyak pria kini tak lagi merasa nyaman dengan peran tradisionalnya. Terbawa emosi, mereka kini mencari identitas baru, namun mereka mendapati hanya sedikit variasi dari peran tradisional tersebut yang dapat mereka jalani, dan yang sedikit itupun amat sempit dan terbatas."

Pergerakan pria yang amat dipengaruhi oleh munculnya feminisme berkembang saat banyak pria mulai mencoba mencari cara untuk memenuhi tuntutan dari istri atau pasangan mereka yang lebih membutuhkan mereka sebagai mitra dan bukannya pelindung yang cenderung patriarkis. Saat kaum wanita membicarakan kebutuhan akan kebebasan, pria mulai mengevaluasi keinginan pribadi mereka untuk dapat lepas dari peran gendernya yang dirasakan terlalu mengikat dan menjauhkan mereka untuk mengalami dan mengekspresikan perasaan manusiawi mereka sepenuhnya dan memperbaiki kapasitas mereka sebagai putra, ayah dan suami yang dicintai.

Seberapa jauhkah perubahan yang ditimbulkan oleh pergerakan pria ini dan akankah bertahan lama? Berapa banyak pria yang benar-benar menjadi ‘pejuang’, bapak rumah tangga, atau pria bebas yang dapat dengan leluasa menunjukkan kerapuhannya tanpa takut kehilangan kemaskulinannya? Setelah menjauhkan diri sejumlah definisi tradisional tentang maskulinitas, apakah pria telah menemukan cara baru yang menyenangkan untuk menyatakan kelaki-lakian dan harga dirinya? Apakah pengaruh dari definisi baru tersebut terhadap hubungan mereka dengan pasangannya, dengan pria lain dan dengan anak-anak dalam kehidupannya?

Sebuah survey informal yang dilakukan pada pria usia 20 hingga 62 menyatakan bahwa, sayangnya, kebanyakan dari mereka belum menyadari dan tak terpengaruh oleh pergerakan pria ini. Menurut pekerja sosial, Robert Bland, "Isu utama bagi pria di millenium baru ini adalah menjadi dirinya sendiri dalam hubungan dengan pasangannya, anak-anak dan sesamanya."

Dr. Kenneth F. Byers, yang mengkhususkan diri dalam pelatihan bagi pria dengan media telepon, mengatakan, "Kurangnya agenda politis yang dapat mempersatukannya telah menghancurkan pergerakan pria, sejauh yang saya lihat selama ini. Satu-satunya jalan mengatasi hal ini dan mengubah hubungan yang telah merampas kita dari kebahagiaan yang mungkin didapat adalah dengan menciptakan gerakan individual dari diri kita sendiri, menghargai perkembangan pribadi dan bergabung dengan komunitas yang terdiri atas mereka yang berpandangan sama untuk memberi dukungan satu sama lain sebagai manusia yang dihargai, terhormat, kuat, berkemauan keras, dan sukses, daripada hanya sekedar melakukan pekerjaan pria."

Banyaknya tuntutan baru bagi kaum pria yang muncul di masyarakat ternyata tak hanya membuat mereka kebingungan, tetapi juga pasangannya. "Aku senang suamiku menangis seusai menonton film dan suka menciumi dan memeluk putra kami yang berusia tiga tahun, " ujar seorang ibu rumah tangga berusia tiga puluhan dari New York. Namun ia dengan sigap menambahkan, "Tapi tetap saja, sesekali aku bertanya-tanya apakah ada yang salah pada dirinya, karena ia sepertinya ‘terlalu feminin’ atau ‘kurang maskulin’."

Jadi, apakah misi pria millenium? Mungkin, mengubah peran gender tradisional pria menjadi seorang ayah yang bersifat pengasih dan pasangan yang ekspresif secara emosional. Jelasnya, perjuangan untuk mendefinisi ulang keberadaan mereka, kepercayaan dan cara hidupnya merupakan tugas berat bagi pria millenium—namun akan jauh dipermudah bila semua orang di sekitarnya mau berbagi dan mendukungnya terhadap tantangan tersebut.

0 comments:

Post a Comment