Saturday, February 23

Cinta Murni, Alami, Atau Kepentingan

Cinta Murni, Alami, Atau Kepentingan

Tinggal di rumah gua, pesawat televisi, kursi, dan bola golfnya dari batu, film kartu Flinstone tak berkisah tentang manusia gua. Problem-problem Flinstone dan istrinya Wilma, serta tetangga sekaligus sobat karibnya Barney Ruble dan istrinya Betty, adalah gambaran masa kini. Suami bekerja di luar rumah, dan istri mengurus rumah tangga. Kadang digambarkan, betapa Wilma dan Betty cukup bersyukur karena suami masing-masing adalah pria biasa saja, dengan segala kelemahan yang layak diterima.

Meski demikian, ada pesan terselubung: betapa pun kemajuan sudah demikian pesat dari zaman ke zaman, hubungan antara pria dan wanita yang paling hakiki mungkin tetap adanya. Idealisasi cinta semacam itu memang banyak bermunculan di dalam berbagai cerita rakyat, legenda, atau jenis sastra yang lain.

Shakespeare (1564-1616) menampilkan cinta suci Romeo-Juliet melawan berbagai predikat atau fungsi yang memisahkan manusia satu dan lainnya. Tokoh Yoko di dalam novel silat Sin Tiauw Hiap Lu menabrak segala aturan adat yang menghalanginya mewujudkan cinta suci dengan gurunya sendiri, Siauw Liong Lie.

Apakah Ken Dedes tidak bisa digolongkan di dalam kelompok wanita murni tersebut, sejak Ken Arok digambarkan terpesona melihat betisnya sebagai istri akuwu Tunggul Ametung, dan kelak memperistrinya sebagai penguasa Singasari? Maka wajar muncul pertanyaan tentang cinta antara pria dan wanita itu melulu alami atau ada intervensi dari proses kebudayaan.

Seberapa jauh ia tetap "murni" dan kapan mulai "tercemar"-oleh berbagai perhitungan yang paling masuk akal sekalipun?

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Pittsburgh, Amerika Serikat, yang diumumkan bulan Februari ini, menyimpulkan bahwa cinta murni tumbuh berdasar pada persahabatan.

"Umumnya orang berpendapat bahwa cinta murni adalah persahabatan yang mendalam yang dipuncaki oleh gairah seksual, namun tidak tergantung pada unsur seksual," jelas ahli psikologi Irene Frieze, yang bersama para mahasiswanya dari universitas tersebut menjalankan penelitian sepanjang tahun 1997.

Kelompok peneliti ini menanyai 166 orang yang berusia antara 18 sampai 50 tahun, yang semuanya sedang asyik-masyuk. Mereka diminta menggambarkan cinta yang tengah mereka nikmati. Para peneliti kemudian menganalisis berkas jawaban dan membaginya ke dalam lima "corak cinta". Penggolongan ini menuruti cara psikolog Amerika Serikat John Lee yang mempelajari hal serupa 20 tahun lalu, dan menyebut setiap golongan dengan istilah-istilah Yunani.

Satu dari lima corak itu adalah "eros" yang bersifat sangat fisik dan gejolak asmaranya sering muncul seketika.

Kedua, "ludus" yang gampangannya adalah cinta sesaat dengan beberapa pasangan.

Ketiga, "mania" yang terobsesi pada seorang kekasih.

Keempat, "storge" yaitu jenis yang tenang, kekasih tetap yang didasari persahabatan namun sesekali diwarnai gairah asmara.

Kelima, "agape" yang menuntut pengorbanan tanpa menghitung apakah cintanya berbalas atau tidak.

Mayoritas responden mengaku termasuk di dalam corak "storge", sebuah cinta yang berdasar persahabatan. Jawaban ini datang baik dari hubungan yang sudah lama maupun baru mulai, serta baik dari pihak pria maupun dari wanita. "Umumnya orang mengira bahwa kalangan lebih muda bakal masuk ke golongan 'eros'. Namun kami tidak menemukan petunjuk seperti itu. Corak 'storge' jauh lebih banyak," kata Irene Freize yang memimpin penelitian ini kepada Reuters.

Memang sulit untuk mendapat jenis hubungan yang sama sekali tidak berkaitan dengan nafsu seks. Tutur Freize, "Menurut pendapat saya, hubungan yang sempurna adalah gabungan dari kedua sisi itu."

Hasil penelitian terbaru itu menyimpang dari gambaran tentang cinta di kalangan masyarakat Amerika Serikat. Selama ini cinta dianggap gampang mengucurkan air mata, seperti yang sering muncul dalam novel-novel percintaan dan film-film Hollywood.

Tidak disebut-sebut di situ perkara kesetiaan, yang pada banyak warga masyarakat di belahan dunia lain masih dianggap salah satu dasar hubungan yang baik. Sebabnya bisa saja karena adat atau situasi sosial budaya memang berbeda. Kalau begitu, pertanyaan apakah cinta itu melulu atau ada campur tangan dari proses kebudayaan, masih selalu punya peluang untuk dipercakapkan.

No comments :

Post a Comment