Saturday, February 23

Gairah Seksual Pria dan Masturbasi

Gairah Seksual Pria dan Masturbasi

Setelah melewati masa remaja, setiap orang akan merasakan suatu dorongan seksual. Dorongan seksual adalah perasaan erotis terhadap lawan jenis, dengan tujuan akhir melakukan hubungan seksual. Pada awal masa remaja, dorongan seksual muncul karena pengaruh hormon testosteron pada pria. Namun demikian, berbagai faktor lain ternyata juga berperan dalam menimbulkan dorongan seksual, seperti faktor psikis, rangsangan seksual dari luar, dan pengalaman seksual sebelumnya.

Dorongan seksual akan semakin kuat jika ada rangsangan dari luar, baik yang bersifat fisik maupun psikis. Rangsangan itu dapat berupa audiovisual maupun sentuhan. Rangsangan audiovisual yang menimbulkan efek psikis yang paling jelas adalah video porno, atau membayangkan kenikmatan berhubungan seks dengan bintang film misalnya. Sedangkan rangsangan fisik dapat berupa ciuman erotis, pelukan, rabaan, bahkan hubungan seksual. Segala sesuatu yang didasari oleh dorongan atau gairah seksual disebut sebagai aktivitas seksual. Sebagian orang merasa puas dengan hanya melakukan aktivitas seksual tanpa hubungan seks, namun sebagian lainnya berhasrat untuk melanjutkan aktivitas seksualnya sampai ke berhubungan seks (bersetubuh, koitus).

Baik pria maupun wanita normal mengalami urutan respon fisiologis terhadap stimulasi seksual. Menurut DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi-4) dibagi menjadi 4 fase.

Fase pertama adalah fase hasrat, ditandai oleh khayalan seksual dan hasrat melakukan aktivitas seksual.

Fase kedua adalah fase perangsangan, disebabkan oleh stimulasi psikologis (khayalan atau ada obyek cinta), stimulasi fisiologis (membelai atau mencium) atau kombinasi keduanya. Fase ini mengandung perasaan kenikmatan subyektif. Fase perangsangan ini ditandai oleh perubahan pada alat kelamin (pada pria berupa ereksi).

Fase ketiga adalah fase orgasme, mengandung kepuasan dari puncak kenikmatan seksual, dengan pelepasan ketegangan seksual dan kontraksi ritmik pada otot-otot panggul dan organ reproduktif. Perasaan subyektif ejakulasi (semprotan air mani yang kuat) mencetuskan orgasme pria. Orgasme laki-laki juga disertai oleh empat atau lima kali spasme ritmik pada prostat, dan organ kelamin lainnya.

Fase terakhir adalah fase resolusi yang terdiri dari pengaliran darah dari genitalia dan membawa tubuh ke keadaan istirahat. Jika orgasme terjadi, resolusi berjalan cepat, sebaliknya jika tidak terjadi resolusi memerlukan waktu dua sampai enam jam dan mungkin disertai kegelisahan dan mudah marah. Resolusi yang melalui orgasme ditandai dengan perasaan kesenangan subyektif, relaksasi umum dan relaksasi otot.

Setelah orgasme, laki-laki memiliki periode refrakter yang mungkin berlangsung selama beberapa menit sampai berjam-jam, dalam periode ini, mereka tidak dapat dirangsang untuk orgasme lebih lanjut. Periode refrakter ini tidak terdapat pada wanita.

Ada perbedaan mendasar dalam fase hasrat antara wanita dan pria. Bagi pria, stimuli visual berupa wanita telanjang atau berpakaian sedikit dapat dengan mudah membangkitkan gairah seksualnya. Sedangkan wanita lebih berespon terhadap cerita romantis dengan pahlawan lembut yang mencintainya dan berjanji seumur hidup dengannya.

Keempat fase di atas terjadi pada semua aktivitas seksual (mungkin ada beberapa yang berhenti di fase 1 atau fase 2, tetapi biasanya semua), baik yang sampai ke hubungan seksual maupun yang tidak, termasuk didalamnya masturbasi.

Masturbasi atau onani ialah suatu cara mencapai kepuasan seksual dengan jalan merangsang diri sendiri, terutama organ kemaluan, biasanya dengan tangan. Sebenarnya masturbasi merupakan perbuatan yang wajar dilakukan. Bahkan hal ini adalah salah satu ciri khas fase falus (lihat tulisan perkembangan seksual pria, -red.), dimana bayi belajar untuk mengeksplorasi fungsi jari dan mulutnya, mereka melakukan hal yang sama dengan genitalianya. Pada fase ini, sesungguhnya anak sudah merasa bahwa kelamin merupakan sesuatu yang penting bagi diri mereka. Pada kira-kira usia 15-19 tahun, kedua jenis kelamin memulai stimulasi sendiri. Sensasi menyenangkan dihasilkan dari sentuhan lembut pada daerah genital. Sensasi tersebut, ditambah dorongan biasanya untuk mengeksplorasi tubuh seseorang, menghasilkan minat normal dalam kesenangan masturbasi pada saat itu.

Saat mendekati pubertas, lonjakan hormon seks dan perkembangan karakteristik seks sekunder ditambah keingintahuan tentang hubungan seksual menyebabkan masturbasi bertambah sering.

Remaja sudah mampu secara fisik untuk melakukan persetubuhan dan mencapai orgasme (melewati 4 fase) tetapi biasanya terhalang oleh faktor sosial dan agama. Hasilnya adalah ketegangan psikologis yang berat dan membutuhkan pelepasan, dan masturbasi adalah cara normal untuk menurunkan ketegangan seksual. Aktivitas ini bertahan sampai usia dewasa muda dimana kemudian digantikan oleh koitus. Namun tidak jarang, pasangan dalam melakukan hubungan seksual juga melakukan masturbasi. Hal ini dilakukan jika koitus tidak memuaskan atau tidak dapat dilakukan karena penyakit atau tidak adanya pasangan.

Tabu moral terhadap masturbasi telah menyebabkan mitos bahwa masturbasi dapat menyebabkan penyakit mental dan menurunkan kemampuan seksual. Sebenarnya tidak ada bukti ilmiah tentang hal ini. Masturbasi menjadi sesuatu yang psikopatologis (penyakit mental) hanya jika masturbasi menjadi obsesi diluar kendali seseorang, artinya masturbasi menjadi segala-galanya dan paling utama.

Bagi mereka yang menganggap masturbasi melanggar aturan-aturan moral atau agama dan akan mendatangkan sesuatu yang buruk bagi dirinya, seyogyanya tidak melakukannya lagi. Karena perasaan itu akan terus menghantui dirinya dan walaupun tidak ada kelainan fisik, kebiasaan masturbasi kemudian dapat menyebabkan gangguan psikis pada orang yang bersangkutan.

Bagi mereka yang merasa terganggu dengan kebiasaan masturbasi dan ingin melepaskan diri dari kebiasaan itu, dapat mencoba hal-hal berikut:
  1. Alihkan perhatian pada kegiatan-kegiatan lain yang positif
  2. Tanamkan keyakinan kuat untuk tidak melakukannya
  3. Hindari rangsangan seksual jika memang tidak kuat “iman”
Kalau tidak berhasil, ada baiknya meminta nasihat pada pemuka agama masing-masing atau berkonsultasi dengan psikiater.

2 comments :