Saturday, February 23

Hamil Diluar Nikah? Siapa Tanggung Jawab?

Hamil Diluar Nikah? Siapa Tanggung Jawab?

Hamil, kecelakaan, married by accident (MBA), aborsi, merupakan fenomena kehidupan yang semakin menjadi trend. Khususnya, dikalangan remaja. Hal ini diperkuat dengan banyaknya berita di beberapa media tentang praktek aborsi yang dilakukan dokter dan paramedis. Kasus semacam itu menjadi langganan bagi pihak berwajib.


Gambaran tersebut merupakan bukti bahwa kasus kehamilan di luar nikah makin meningkat, terutama dikalangan remaja. Di Indonesia sendiri, kasus aborsi mencapai 2,3 juta setiap tahunnya.Yang paling mengejutkan 50% diantaranya adalah remaja. Dari fakta tersebut, tentu kita bertanya. Apakah para remaja, masih kekurangan informasi dan pengetahuan tentang pendidikan seks. Ataukah mereka masih menganggap bahwa informasi itu tidak penting. Melihat kenyataan ini, siapa yang harus disalahkan pemerintah, orangtua atau remaja itu sendiri?

Survey CMM PKBI DKI menunjukkan bahwa dari 207 responden. Yang berasal dari kaum remaja, berusia 14 - 22 tahun. 78,2 % diantaranya berpendapat jika terjadi kehamilan diluar nikah maka yang paling bersalah adalah kedua belah pihak. Karena, hubungan seksual pada masa pacaran seringkali terjadi atas dasar suka sama suka. Celakanya, pengetahuan mereka tentang pendidikan seks pun belum memadai. Ini pun didukung dari hasil polling, bahwa 88,7% responden mengatakan bahwa intercourse (hubungan seksual penetrasi) pada masa pacaran dapat terjadi karena kedua belah pihak tidak mempunyai iman yang kuat.

Meskipun 75,2% dari 207 responden memilih menikah sebagai alternatif pemecahan masalah kehamilan diluar nikah dan hanya 6,8% yang memilih aborsi sebagai alternatif pemecahan masalah, ternyata tidak signifikan dengan kenyataan dilapangan. Fakta menunjukkan kasus aborsi pada remaja semakin tinggi dan sangat signifikan dengan angka kehamilan diluar nikah.

Banyak sekali faktor yang menyebabkan hal ini. Misalnya, menggugurkan kandungan hanya karena orangtua ingin menjaga nama baik keluarga. Atau, peraturan sekolah yang melarang siswa perempuannya mengikuti proses belajar mengajar di sekolah saat dirinya mengalami kehamilan. Dari latar belakang itulah, biasanya mereka memutuskan untuk melakukan aborsi.

Mungkin, karena alasan ini 47 responden menyatakan memilih berhenti sekolah jika kehamilan tak bisa dihindarkan. Tapi, 55 responden lainnya berpendapat bahwa otak harus dijaga dan ditingkatkan kualitasnya selama kehamilan berlangsung.

Meskipun responden mengatakan bahwa kehamilan di luar nikah merupakan kesalahan kedua belah pihak, tapi dalam kenyataannya perempuanlah yang paling merasakan akibatnya. Sebab, biasanya sanksi lebih banyak dikenakan pada perempuan ketimbang pria.

Sebenarnya, ada solusi terbaik untuk mengatasi kasus itu. Misalnya, memberlakukan sistim cuti bagi siswi yang hamil. Seperti yang berlaku di tingkat universitas. Solusi itulah yang diinginkan oleh 106 responden. Mereka berpendapat, untuk memecahkan masalah kehamilan diluar nikah sebaiknya sekolah memberikan cuti hamil pada siswinya. Dalam konteks ini, Departemen Pendidikan Nasional (depdiknas) sedang menggodok program advokasi untuk remaja putri. Agar mereka tetap bisa bersekolah disaat hamil.

Tapi, bukan berarti pemerintah membenarkan hubungan seks diluar nikah. Melainkan, kebijakan tersebut merupakan upaya kuratif dalam persoalan kesehatan reproduksi remaja yang makin kompleks saat ini. Bagaimanapun, pencegahan secara preventif harus terus dilakukan. Sebagaimana yang diharapkan 106 responden. Mereka berpendapat, pendidikan seks untuk remaja adalah tanggung jawab semua pihak. Mencakup, pemerintah, sekolah, guru, orang tua dan remaja itu sendiri.

No comments :

Post a Comment