Monday, February 25

Kebohongan Seksual, Perlukah?

Kebohongan Seksual, Perlukah?

Atas nama cinta, pria dan wanita seringkali berbohong tentang kemampuan seksual pasangannya atau kehidupan seksualnya di masa lalu. Mereka melakukannya dengan alasan tidak ingin menyakiti hati atau takut kehilangan pasangannya. Padahal kebohongan seksual bagaikan bom waktu yang jika meledak, kerusakan yang diakibatkannya tidak mudah untuk diperbaiki.


Susi, 27 tahun, bercerita bagaimana ia seringkali berpura-pura orgasme. “Suamiku begitu bahagia jika aku mencapai orgasme. Sebenarnya tidak setiap kali bercinta, aku bisa orgasme. Tapi untuk menjaga perasaannya, aku sering berpura-pura orgasme.”

“Saya sangat mencintai istri saya, tapi soal seks, entah kenapa saya tidak begitu bergairah padanya. Itulah sebabnya seringkali saat bercinta dengannya saya berfantasi sedang melakukannya dengan perempuan lain,” kata Aji, 34 tahun.

Umumnya orang-orang seperti Susi dan Aji mengira apa yang mereka lakukan sah-sah saja untuk menjaga keharmonisan rumah tangga mereka. Padahal apa yang sebenarnya terjadi adalah menumpuk kekecewaan di alam bawah sadar mereka.

“Tak ubahnya seperti menyetel bom waktu. Saat menumpuknya kekecewaan melewati ambang batas, mereka tidak akan bisa berpura-pura lagi, bahkan bisa meledak dan menyakiti kedua belah pihak,” kata Sunyna Williams, Ph.D., pakar kesehatan masyarakat dari Amerika Serikat.

Memang terus terang pun bisa menyakiti hati pasangan, tapi sakitnya tidak akan separah saat mereka tahu pasangannya berbohong tentang kemampuan seksual mereka. “Pria dan wanita pada dasarnya sama. Dalam hal seksual, mereka sangat sensitif. Namun mereka lebih menghargai jika pasangannya berterus terang dan bersama-sama menemukan jalan keluarnya,” kata Sunyna.

Dalam hal ini cara komukasi yang pas memegang peranan sangat penting. Kedua pasangan harus mau mencoba mengkomunikasikan ketidakpuasan mereka agar masalah bisa terpecahkan dengan baik, katanya.

Dalam penelitian yang dilakukannya, Sunyna menemukan dua macam kebohongan. Kebohongan seperti yang dilakukan Susi dan Aji, yang digolongkannya sebagai tidak beresiko, dan golongan beresiko yang berbohong tentang kehidupan seksualnya di masa lalu.

Mereka berbohong dengan mengatakan tidak pernah berhubungan seks sebelumnya, atau mengatakan hanya melakukan safe sex. Kebohongan yang ini sangat beresiko karena bisa menularkan penyakit kepada pasangannya.

No comments :

Post a Comment