Konseling Seksualitas, Perlukah Untuk Remaja?


Konseling Seksualitas, Perlukah Untuk Remaja?

Kalau sedang bingung, apa saja, sih, yang sering kita lakukan?

Berjalan-jalan ke tempat-tempat yang sunyi, pergi dengan temen-temen, misalnya ke mal, surfing di Internet, shopping, ataukah justru malah stres dan enggak tahu apa yang akan diperbuat. Kalau mengalami, mungkin semua orang sudah pernah, tapi sering dan tidaknya memang akan tergantung pada kemampuan setiap orang untuk mencari solusinya.


Lalu masalah seperti apa yang sering kali kita rasakan? Bisa saja masalah sekolah, putus dengan pacar, diejek teman, dan mungkin juga masalah-masalah yang berhubungan dengan seksualitas, seperti: menstruasi pertama, mimpi basah pada laki-laki, menolak dicium oleh pacarnya atau bahkan meminta hubungan seks.

Masalah-masalah yang tidak berhubungan dengan seksualitas, mungkin lebih mudah kita curahkan ke teman, orang tua, atau bahkan bapak atau ibu guru, tetapi jika itu masalah yang berhubungan dengan seksualitas mungkin enggak, ya, jika kita tanyakan dengan orangtua atau bapak ibu guru kita? Beranikah kita mengutarakannya atau justru kita malu dan tidak berani untuk menyampaikan, karena selain takut dibocorkan ke orang lain masalah ini juga masih tabu dibicarakan secara terbuka?

Kemudian, bagaimana dan kepada siapakah keluhan ini bisa disampaikan. Jika masalah ini dipendam saja di diri kita masing-masing baikkah untuk kita? Dan wajarkah kalau kita mengalami masalah-masalah ini? Uraian di bawah ini mencoba untuk memberikan alternatif solusi bagaimana jika suatu masalah yang berhubungan dengan seksualitas kita alami.

Ketika remaja, banyak hal yang berubah pada diri kita, misalnya, perubahan dari sisi fisik, seperti pada laki-laki adalah suara menjadi berat, tumbuh jakun, tumbuh rambut di alat kelamin dan di ketiak, kemudian bagi perempuan misalnya:

payudara membesar, pinggul mulai membentuk, mengalami menstruasi, untuk perubahan yang nonfisik seperti: mulai tertarik pada lawan jenis baik laki-laki dan perempuan. Pada kondisi ini kita sering bingung mengapa terjadi berbagai perubahan atau bahkan kita menjadi malu ketika mengalaminya.

Selain itu pada waktu remaja kita merasa sudah mampu untuk menyelesaikan masalah tanpa bantuan orang lain, tetapi kadang-kadang orang tua masih memandang kita perlu mendapat pengamatan yang super ketat karena takut akan terjadi apa-apa pada kita. Kalau sekadar diamati mungkin tidak terlalu merepotkan tetapi jika sampai apa-apa yang kita lakukan sampai sedetailnya harus diatur oleh orangtua, ini yang membuat jengkel.

Dalam pergaulan sehari-hari antarteman, kadang-kadang kita mendapat sesuatu yang diharapkan, seperti mendapat teman untuk nonton film, atau just having fun ke mana aja, selain itu seorang teman merupakan sosok yang enak bila diajak untuk ngobrol karena mungkin satu pandangan dengan pikiran kita apalagi jika diskusi tentang hal-hal yang berhubungan dengan remaja. Tetapi, kita juga sering mendapat masalah dalam hubungan pertemanan, pernah tidak merasakan digosipin oleh teman dekatnya sendiri, diledek, atau rahasia kita dibocorkan ke orang lain? Pasti pernah kan! Saat itu mungkin perasaan kita sakit sekali bahkan seringkali ada keinginan untuk memukul teman tersebut.

Pada lingkungan sekolah, kita pernah juga merasakan bingungnya atau bosannya untuk sekolah, juga malas untuk masuk sekolah, pengennya membolos terus. Kita menjadi bingung apa yang seharusnya dilakukan? Oleh karenanya pada kondisi seperti ini, kita tidak perlu memungkiri bahwa masalah yang selalu ditemui itu memang sering muncul pada saat remaja.

Lalu bagaimana caranya menyelesaikan masalah ini atau akan dibiarkan saja masalahnya ? Jelas tidak mungkin. Kita perlu segera menyelesaikan masalah yang sedang dihadapai apa pun sumbernya, misalnya dari teman, permasalahan seksualitas, atau masalah di sekolah. Kalau dibiarkan berarti semakin mempersulit posisi dan akan bertambah dengan masalah lainnya sehingga tambah berat masalahnya. Akibatnya kita jadi bingung dan stres atau mungkin lari ke masalah narkotik, jalanan dan lain-lain.

Ada satu alternatif untuk membantu memecahkan masalah, yaitu dengan melakukan konseling ke tempat-tempat pelayanan konseling untuk remaja. Konseling itu apa, sih? Kegiatan itu adalah sebuah proses pemberian bantuan dari konselor kepada seorang klien atau sekelompok orang yang memiliki masalah.

Bantuan diberikan untuk memecahkan masalah yang dialami oleh klien dengan cara wawancara atau diskusi.

Dari proses konseling ini apa saja yang akan diperoleh?

Pertama, kita bisa katarsis yaitu menumpahkan segala persolan pada konselor. Kedua, kita bisa mendapat informasi, menyelesaikan masalah dan mendapat dukungan atas pilihan solusi yang diambil. Sehingga kita bisa mantap untuk bersikap seperti apa yang diyakini.

Lalu bagaimana jika permasalahan kita adalah masalah seksualitas, takutkah jika persoalan ini bocor? Jelas tidak, justru untuk permasalahan seperti ini bisa lebih enak dibicarakan saat proses konseling, karena ada prinsip dasar konseling yang harus dilakukan oleh seorang konselor yaitu: bahwa semua proses konseling itu dilakukan dengan tidak boleh membocorkan isi diskusinya alias rahasia, konselor diwajibkan untuk memberikan informasi secara jujur, menyeluruh/lengkap, dan bertanggung jawab; konselor juga tidak boleh berprasangka apapun terhadap klien dan non diskriminatif. Sehingga dari sini kita tidak usah takut-takut untuk melakukan konseling masalah seksualitas.

Masalah-masalah seperti apakah yang sering dibicarakan khususnya tentang konseling seksualitas? Antara lain: perkembangan fisik dan mental pada masa pubertas, masalah seputar pacaran, perilaku seks, kesehatan reproduksi secara umum, body image, HIV/AIDS, penyakit menular seksual dan kehamilan tidak diinginkan. Kemudian mengapa konseling seksualitas dibutuhkan oleh seorang remaja? Karena remaja mempunyai hak juga untuk memahami masalah seksualitas, tidak cuma orang-orang dewasa saja.

Selama ini sarana-sarana yang dipakai oleh remaja untuk memenuhi keingintahuan pada soal-soal seksualitas adalah diskusi dengan teman sekolah, dan nonton film atau video.

Informasi yang didapatkan dari berbagai media tersebut seringkali tidak benar, penuh dengan mitos, dan bias jender.

Melalui konseling seksualitas kita akan memperoleh informasi yang benar dan bertanggung jawab dari konselor yang bersangkutan sehingga pilihan-pilihan perilaku kita itu merupakan hasil diskusi yang betul-betul membuat kita puas.

Oh, ya, selain bertemu langsung dengan konselor kita juga bisa mengeluarkan masalah seksualitas kita melalui surat atau telepon. Dari berbagai cara tersebut itu memang ada kelebihan dan kelemahan masing-masing, misalnya, jika lewat telepon: kemungkinan kita tidak bisa berlama-lama untuk konseling karena mahal biayanya padahal masalahnya tergolong berat, tetapi kelebihannya adalah kita tidak usah datang ke layanan konseling untuk bertatap muka langsung dengan konselor karena mungkin merasa malu.

Semua bentuk konseling ini pada dasarnya adalah untuk membuat kita (baca: remaja) semakin mendapat akses informasi seksualitas, karena tidak ada yang lebih baik dari berusaha semaksimal mungkin untuk mengurangi beban masalah, daripada sekadar duduk berpangku tangan.

0 comments:

Post a Comment