Monday, February 25

Kuantitas VS Kualitas Cinta

Kuantitas VS Kualitas Cinta

Cinta memang bikin bingung. Bahkan ketika harus memilih mana yang paling kita inginkan. Kuantitas atau kualitas cinta?

Mungkinkah kita mendapatkan keduanya sekaligus, dalam satu kesempatan?

Nampaknya, kita perlu pemahaman mendalam tentang arti cinta. Mungkin apa yang diungkapkan Heidi Mitchell dalam Quantity vs quality love Which would you choose? bisa jadi pegangan yang berarti.

Kuantitas

Kita ambil contoh si tukang makan. Pasti dia ingin mencicipi semua makanan yang tersedia di jamuan dinner, walau nggak semuanya enak, kan? Alhasil, dia tahu gimana rasanya sushi, chicken wings, barbecue atau steak.

Hal itu akan berguna baginya, kalau nanti ada jamuan dinner lagi. Dia bisa nentuin makanan mana yang lebih enak dan layak diburu. Ruginya, kalau kebanyakan bisa kekenyangan, bahkan mungkin keracunan!

Tapi idenya bagus juga. Gimana kita bisa yakin kalau spaghettie itu bikin "eneg" kalau nggak pernah mencobanya? Memang, sih, bukan berarti kita harus sering ganti-ganti pacar. Tapi, kita berhak mendapat orang terbaik sebagai pasangan hidup, lho. Iya, kan?

Kualitas

Tapi keadaan akan berbeda kalau kita berkaca pada pelari maraton. Walau disuguhin buffet berbagai makanan, mungkin dia hanya memilih makanan tertentu, yang baik buat stamina dan kesehatan tubuh. Salut buat orang macem ini.

Tapi, bisa jadi dia akan terjebak. Gimana kalau makanan "tertentu" itu nggak ada? Cuma ada dua kemungkinan: makan apa saja atau nggak makan apa-apa. Kalau makan apa saja, bisa jadi dia sakit perut. Kalau nggak makan, risikonya adalah kelaparan.

Begitu juga dalam percintaan. Bisa jadi orang macam itu terjebak. Dia terbelenggu oleh orang "tertentu" yang belum tentu baik buatnya. Padahal, banyak orang yang lebih baik dan cocok untuknya di luar sana. Sayang, kan, kalau baru sadar 10 tahun kemudian?

Solusinya?

Kenapa nggak coba menyeimbangkan kuantitas dan kualitas? "Untuk ngedapetin orang yang benar-benar berkualitas, kita perlu membuka diri untuk berbagai kemungkinan hubungan, walau untuk yang terburuk sekalipun," ujar Mitchell.

Mengetahui berbagai karakter orang, imbuhnya, menempa kita untuk lebih dewasa, pandai bersosialisasi dan bijak dalam mengambil keputusan.

No comments :

Post a Comment