Monday, February 25

Melamun: Antara Nikmat & Depresi

Melamun: Antara Nikmat & Depresi

Menurut hasil studi, orang yang suka melajo itu cenderung mudah terkena depresi ketimbang orang realistis. Bicara soal yang satu ini, memang agak tak percaya. Tapi begitulah hasil studi.

Jelasnya, depresi itu dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti beban hidup dan banyak pikiran. Tapi, setelah diselidiki, ternyata depresi juga dipicu oleh kualitas cinta dan kebiasaan "melajo".

"Hubungan asmara yang tak terlalu mulus, mungkin lebih menyebabkan depresi. Orang yang suka "melajo" karena tak punya "tempat penyaluran", biasanya lebih sering mengalami depresi," kata Suzanne Levy dari University of North Carolina mengatakan.

Paling tidak, itulah yang terjadi pada sekitar 170 mahasiswa yang diteliti. Pada para remaja, hal tingkat dpresi akan sangat ditentukan oleh kualitas cinta pertama mereka. Risiko ini umumnya banyak ditemukan pada remaja putri.

Lebih jauh Levy mengatakan, kualitas cinta itu sendiri sangatlah relatif, cenderung berbeda untuk setiap individu. Namun Levy punya "pakem" sendiri untuk mengetahuinya, seperti kadar keintiman dan kedekatan seseorang dengan pasangannya.

"Remaja yang gagal melalui cinta pertama, akan lebih mudah kecewa. Mereka biasanya akan lebih banyak berfantasi dan membayangkan hal-hal romantis yang harusnya dialami. Kebiasaan ini jelas berpotensi menyebabkan depresi," ungkap Levy.

Remaja yang terjebak dalam rutinitas itu, cenderung sensitif dan lebih agresif. "Mungkin itu cara mereka mengekspresikan diri. Tapi kalau dibiarkan, itu lebih menyerupai psikopatologi," kata Laura Keys dari University of Vermont, AS, seperti dikutip Reuters Health.

Ironisnya, bagi orang yang suka "melajo" ini, ternyata dukungan orangtua nampaknya tak banyak berperan meringankan risiko depresi di kemudian hari. Jadi, walaupun enak, kebiasaan "melajo" sebaiknya dibatasi. Begitulah teori mereka.

No comments :

Post a Comment