Monday, February 25

Memilih Istri, Sulitkah?

Memilih Istri, Sulitkah?

Sulit bagi para pria masa kini mencari calon istri yang mau total mengurus rumah tangganya. Bagaimana seharusnya memilih istri ideal?

Semua anggota keluarga Hans (41), direktur eksekutif pada sebuah perusahaan real estat di Batam, tak habis pikir. Sampai seusia itu, Hans belum juga tampak memperkenalkan calon pasangan hidupnya kepada keluarganya. Sempat terlintas di benak mereka, Hans adalah gay.


"Percayalah, saya bukan yang kalian duga. Saya hanya belum mendapatkan wanita yang saya harapkan," elak Hans di hadapan kedua orangtuanya. Ia lalu menyebut kriteria wanita yang bisa mendampingi hidupnya. Calon istrinya, urai Hans, haruslah yang mau menyadari akan peran dan fungsinya, juga ajaran agamanya, bertanggung jawab penuh terhadap rumah tangganya, memprioritaskan rumah tangga dibandingkan yang lain, menempatkan sang suami sebagai kepala keluarga, mengikhlaskan dirinya untuk mengelola rumah tangga, serta mengerjakan semua urusan rumah tangganya tanpa menunggu perintah.

Pantas, rupanya Hans sangat selektif dalam memilih calon istri. Dan itu malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Soalnya, "Jika itu yang Anda harapkan, maka yang Anda cari adalah produk tahun 60-an. Sekarang 'stok'-nya sudah jarang," kata psikolog sekaligus konsultan perkawinan, Dra Ieda Poernomo Sigit Sidi.

Kalau dulu memang ada Sekolah Kepandaian Putri atau SKP, kemudian Sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP), yang kemudian diganti menjadi Sekolah Menengah Kejuruan Keluarga atau SMKK. Sekarang sekolah-sekolah kejuruan itu masih ada meski jumlahnya sangat terbatas. Di sana murid-murid wanita diajarkan segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan rumah tangga, mulai masak, jahit, membereskan rumah, dan sebagainya.

Sekarang zaman sudah berkembang. Anak perempuan tidak hanya dididik untuk mengurusi rumah tetapi mereka lebih banyak didorong pada pendidikan formal, yang artinya akan banyak berkiprah di luar rumah. "Jadi, mencari istri yang benar-benar mau total dalam mengurusi rumah tangga pun sulit di zaman sekarang," tandas Ieda.

Kebutuhan Psikologis

Sesungguhnya, alasan yang sangat mendasar mengapa manusia itu perlu menikah yaitu dikarenakan kebutuhan psikologis. Sebagai makhluk sosial, manusia itu perlu berteman. Sahabat saja tidak cukup karena sifatnya yang bisa berubah-ubah atau tidak permanen. Secara psikologis kita memerlukan teman yang cocok dalam hal berbagi kehidupan. Istri adalah pasangan hidup sekaligus teman hidup suami. Artinya, mereka sudah berikrar baik dalam susah maupun senang untuk selalu bersama-sama, saling membantu, dan dapat saling menerima apa adanya.

Itulah sebenarnya idealnya seorang pasangan hidup. Secara konseptual, istri yang ideal adalah istri yang bisa mengerti suaminya, dan sebaliknya, bisa dimengerti oleh suaminya. Namun, sebelum Anda menentukan wanita ideal untuk dijadikan pasangan hidup, Anda harus jelas terlebih dahulu dengan konsep diri Anda. Maksudnya, "Kita harus memahami dulu siapa diri kita, dan seperti apa diri kita di mata orang lain, apa pula yang kita inginkan? Nah dengan keadaan kita yang seperti ini, baru bisa diketahui bahwa kita cocok dengan tipe wanita yang seperti apa," papar Ieda.

Kenali Diri

Langkah pertama sebelum menentukan calon istri adalah kenali dulu diri Anda sendiri. Kalau Anda termasuk tipe laki-laki yang ingin selalu dihormati penuh sebagai kepala keluarga, Anda harus tahu konsekuensinya. Penuhi dulu nafkah keluarga, jangan cuma menuntut pada orang lain, tetapi tuntutlah diri Anda terlebih dahulu. Selain itu berusahalah keras untuk menjadi penanggung jawab keluarga secara penuh.

Jika Anda termasuk tipe pria yang tidak yakin terhadap diri sendiri, apakah bisa mencari nafkah secara penuh buat keluarganya atau tidak, maka sebaiknya cari istri yang bisa bahu membahu dengan suami, jangan cari yang bergantung terus pada Anda, karena jika begitu, akan terbayang kesulitannya. Kalau Anda juga termasuk orang yang tidak yakin terhadap kelanggengan pekerjaan yang Anda miliki, maka carilah juga istri yang bisa fleksibel dalam mengarungi kehidupan. Sementara apabila Anda adalah tipe pria yang dibesarkan dalam lingkungan demokratis, tidak gender bias, dalam arti tidak mengenal pekerjaan pria atau wanita, maka Anda pun sebaiknya mencari pasangan yang seperti itu, sehingga tidak timbul bentrok nantinya. Dengan mengenali diri Anda sendiri, maka dengan sendirinya Anda akan menjadi lebih mudah mencari siapa calon istri yang cocok, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang Anda miliki.

Mutlak Harus Ada

Konsep mengenali diri sendiri itu mutlak harus ada, meskipun pada akhirnya muncul pertimbangan lain tentang kriteria istri ideal, seperti pertimbangan dari sudut fisik, penampilan, ekonomi, sikap, prilaku, latar belakang yang berkaitan dengan bibit, bebet dan bobot, dan sebagainya.

Lebih jauh Ieda mengingatkan kepada para lelaki pencari istri, tentang kesalahan pilih dalam mencari pendamping hidup. Yang seringkali menjadi kesalahan para pria adalah, ketika mereka menemukan seseorang yang sepertinya memiliki apa yang diinginkan, lalu kecewa karena ternyata calon pasangan itu mempunyai kekurangan. Namun kekecewaan itu dibiarkan saja, dengan harapan akan ada perubahan setelah menikah kelak.

"Anda salah jika berharap seperti itu. Siapa sih yang sanggup mengubah sifat seseorang kecuali dirinya sendiri? Nah, kalau ada kasus seperti itu tanyakan pada diri Anda sendiri, bisakah Anda menerima jika kekurangan calon istri Anda itu tak bisa dirubah menjadi lebih baik? Kalau jawabannya 'tidak', dan apalagi kalau Anda juga tak bisa merubah diri Anda untuk menyukai dia, lebih baik batalkan saja," papar Ieda.

Uji Calon

Ieda menyarankan dilakukannya pendekatan secara kualitatif untuk mengetahui apakah Anda cocok dengan calon pasangan Anda.

Inilah kiat-kiatnya:

  1. Kenali keluarganya dengan mengajaknya ngobrol ringan tapi serius. Jangan-jangan calon Anda itu termasuk wanita yang kurang suka dengan keberadaan anak kecil di sekitarnya.
  2.  Lihatlah dengan siapa dia bergaul, seperti apa teman-temannya, bagaimana bentuk hubungan dengan teman-temannya, apakah tulus, solidaritas atau ada kekuatan. Kekuatan artinya apakah dia punya kekuasaan, atau karena dia memiliki banyak uang untuk memberi teman. Dengan mengenali teman-temannya maka Anda akan mengenali dia juga.
  3. Pelajari sifat pasangan ketika berbicara mengenai pekerjaannya, sebab dari obrolan tersebut kita bisa tahu bagaimana cara dia mengklarifikasi suatu masalah.
Jadi, dalam mengenali calon pasangan Anda, jangan hanya mengenali sosok dia sendiri, namun juga dengan tiga hal di atas. Meski begitu, yang paling penting, menurut Ieda, adalah bersyukur dan menerima apa yang disediakan Tuhan kepada kita.

No comments :

Post a Comment