Tuesday, February 26

Tetap Ceria di Saat Putus

Tetap Ceria di Saat Putus

Putus dengan pacar…? Pasti dong sedih, bingung, kesal, merasa jelek en nggak berarti, pokoknya semua perasaan negatif bercampur jadi satu. Pengen nangis, jerit, bawaannya tidur melulu sambil cuci bantal pake air mata, semua laki-laki dianggap sama jeleknya, nggak tahu perasaan perempuan….,hu….hu....hu…. !!! Kenapa bisa gitu ya….? Ya iya, karena kita cinta or sayang sama doi, terus karena ada rasa cinta itu lah maka kita pasti punya harapan-harapan tertentu sama doi, dan kalau harapan harapan itu nggak tercapai (atau malah putus), kita kan jadi kecewa dan sedih. 


Apa memang gitu reaksinya kalau kita sedang putus cinta…? 
 
Kayaknya nggak semua orang ya yang reaksinya seperti itu. Setiap orang pasti berbeda cara mengatasi penyakit putus cinta ini. Ada yang seperti diatas tuh reaksinya, ada yang malah jadi pendiam berat, ada juga yang jadi membenci semua laki-laki, dianggap semua laki-laki itu sama seperti mantan pacarnya. Kan nggak benar ya… Terus, reaksi selanjutnya ada yang jadi menurun motivasinya, baik motivasi dalam belajar maupun dalam bergaul, pokoknya jadi mundur deh prestasinya.

Sedangkan yang lain, ada juga yang malah tambah bagus, tampak pede, tambah fleksibel dalam bergaul, juga dalam belajar (kok IP-nya malah jadi 3,00). Dari sudut 'waktu' juga ada orang yang hanya membutuhkan waktu relatif tidak lama (hitungan bulan), tapi ada juga lho orang yang membutuhkan waktu lama (hitungan tahun boooook…).

Nah…., sekarang kita akan ngomongin masalah putus cinta ini, apa aja sih yang membuat orang jadi beda reaksinya terhadap penyakit yang satu ini….?
 


Apa sih penyebab putusnya hubungan tersebut. Biasanya, kalau putus karena diselingkuhin, ini bisa bikin kepala pusing tujuh keliling. Kenapa….? Karena kita (sebagai pihak yang diselingkuhin) akan ngerasa tidak berharga en tidak berarti, tidak dicintai dan satu lagi, merasa dikhianati. Didalam hati kita akan berucap ' kok dia tega sih berbuat seperti itu.'
Beda kalau putusnya karena ada perbedaan pendapat atau udah nggak ada kecocokan lagi. Kalau karena masalah ini, biasanya kedua belah pihak merasa sadar bahwa mereka kok sudah tidak ada kecocokan lagi dan membuat suatu kesepakatan untuk mengakhiri hubungan ini, sampai disini aja deh…. 

Kekuatan mental / psikis Ini yang paling berperan penting. Biasanya, kalau kita sudah memiliki mental atau psikis yang kuat, biasanya kita akan memerlukan waktu yang relatif lebih singkat mengatasi masalah ini dibanding orang lain. Mental atau psikis yang kuat ini sangat berhubungan dengan keseimbangan antara rasio dan emosi kita. Nah…kalau kita sedang putus cinta, yang akan berperan dan bermain didalamnya adalah emosi, bukan rasio (ya…jelas dong, jatuh cinta itukan emosi, bukan rasio, he…he…..). Sedangkan bagi orang-orang yang kestabilan emosi dan rasionya udah oke, dia akan tahu kapan nih rasio yang maen dan kapan emosi yang maen. Dia akan lebih bisa mengendalikan emosinya dan lebih memainkan peranan rasio waktu sedang putus cinta. Sehingga masalah dia dalam putus cinta ini akan dapat dilhatnya secara lebih obyektif lagi, bukan dengan penyesalan atau umpatan-umpatan kepada si mantan, atau malah jadi tenggelam dalam situasi merasa tidak dicintai semua orang. 
Dari melihat masalah ini secara lebih jelas, maka kita akan mendapatkan hikmah dan memetik pelajaran darinya, apa sih sebenarnya yang membuat kami bubar…(bukan mencari kesalahan di mantan), apa sih kekurangan atau kesalahanku, atau pertanyaan-pertanyaan lain yang dapat menjadi bahan evaluasi serta masukan dari diri kita untuk lebih memperbaiki diri di masa mendatang, so yang pasti tidak mengulang kesalahan yang sama di hubungan mendatang. 

Toleransi terhadap masalah. Biasanya, orang yang pernah mengalami putus cinta, maka toleransi dia terhadap masalah tersebut juga akan semakin tinggi. Maksudnya masalah tersebut tidak akan membuat dia uring-uringan segala karena toh dia sudah pernah mengalami sebelumnya. Beda kalau putus cinta ini merupakan pengalaman kita yang pertama, rasa sakitnya nggak ketulungan deh….Soalnya kita belum punya pengalaman untuk menjadi bahan perbandingan. Semakin kita punya pengalaman yang tidak enak (baca : putus cinta), akan semakin membuat kita jadi lebih hati-hati dalam melangkah serta lebih pandai dalam menata ulang emosi-emosi kita, membuat kita tidak mudah masuk dalam situasi patah hati, depresi, paranoid, dan penyakit-penyakit hati lainnya. 

Intensitas dari hubungan itu sendiri. Kalau hubungan tersebut sudah cukup intens (serius) atau sudah cukup lama (dari segi waktu), biasanya perasaan luka akan sangat membekas di hati kita. Kok bisa gitu…? Ya jelas dong, dengan waktu yang udah lama dijalanin berdua dengan segala macam tantangan yang udah dihadapi, tiba-tiba putus, kenangannya kan banyak, maka ngelupainnya juga rada susah (tapi bukan berarti nggak bisa lho…). Juga dikarenakan akibat dari intensitas hubungan ini, yaitu timbulnya suatu perasaan kepedulian atau adanya perasaan bahwa kita sudah menjadi bagian dari diri pasangan. Jadi, kalo putus, kita nggak boleh nangis, nggak boleh sedih, atau laen-laennya itu….. Ooh…tidak begitu. Boleh aja kok kita sedih, kecewa, nangis (kalau perlu) atau laen-laennya. Dan wajar kok kita seperti itu karena itu membuktikan kita cinta or sayang sama dia. Cuma masalahnya, nggak boleh keterusan dong sedih en kecewanya, nanti semua kegiatan atau rencana masa depan kamu pada buyar semua gara-gara kamu putus, kan nggak bener……Dan biasanya, pihak manapun (baik yang mutusin atau yang diputusin) akan memiliki perasaan sama, jadi bukan cuma pihak yang diputusian aja ya…
Tetap Ceria di Saat Putus

Cara ngatasinnya gimana dong…
 
  1. Untuk hari-hari pertama, biarin aja perasaan kamu itu tumpah ruah. Kekesalan kamu, kecewa kamu, kesedihan kamu dan perasaan lainnya, biarkan keluar, jangan dipendam nanti malah jadi penyakit. Ini berguna untuk membuat dada kamu itu plong dari perasaan-perasaan negatif, istilah kerennya sih 'katarsis'. Itu bagus kok, misalnya kamu pengen jerit di tepi pantai, atau pengen nangis, go on. Asalkan jangan keterusan. Kayaknya cukup deh 3 hari or maksimal 1 minggu untuk ngeluarin semuanya...jangan lebih ya…
  2. Ajak sohib kamu sebagai tempat curhatnya kamu. Keluarkan semua uneg-uneg kamu tentang mantan pacar serta penilaian-penilaian apa aja yang ada di benak kamu. Tapi sebelumnya, bilang aja sama sohib kamu bahwa kamu cuma pengin di dengar, dan belum butuh nasehat. Karena kalau kamu nggak bilang gitu, nanti sohib kamu bakalan nasehatin kamu, padahal kamu tuh belum bisa dinasehatin (masih sangat emosional), nggak bakalan masuk ke pikiran kamu.
  3. Menjauhkan benda-benda yang berhubungan dengan mantan. Semua benda-benda yang berhubungan dengan si mantan atau hal-hal yang bakalan ngingatin kamu ke dia, mendingan untuk sementara waktu, dijauhin aja lah dari pandangan kamu, sehingga kamu nggak teringat ke dia.
  4. Ingatan kamu tetap terjaga. Berusahalah untuk tetap menjaga, jangan mengingatnya dulu deh…, nanti kalau ingatan kamu kembali ke dia, kamu sadarin diri lagi bahwa kamu nggak boleh ingat dia. Dan kalau masih ingat juga, kamu bilangin ke diri sendiri bahwa kamu mau ingat dia waktu mau tidur aja, sekarang enggak (mau belajar). Gunanya untuk pengendalian diri kamu agar tidak mengingat dia, dan kalau kamu sepertinya membuat jadwal kayak gitu tuh, itu bakalan membuat kamu bosan, dan apda waktu mau tidur juga, kamu bakalan nggak ingat sama janji kamu tadi.
  5. Perbanyak aktivitas / kegiatan sehingga waktu kamu habis hanya untuk aktivitas itu, bukan untuk mengingat dia or kenangan-kenangan kalian berdua. Isi waktu seefisien mungkin dengan kegiatan-kegiatan berguna.
  6. Memperluas pergaulan. Kalau mungkin selama ini kamu agak terbatas bergaulnya (mengingat dia yang cemburuan), maka sekarang kamu bisa bebas bergaul en perluas pergaulan kamu, tambah teman.
  7. Ambil segi positif dari berakhirnya cinta ini. Misalnya waktu kamu jadi tambah luang untuk lebih beraktivitas, lebih bisa nambah teman tanpa takut ada yang cemburu, tambah fleksibel, tambah dewasa, or tambah mandiri (habisnya sekarang kemana-mana nggak ada yang antar). Mungkin juga kalau hubungan ini diterusin, akan berakibat tidak baik bagi perkembangan pribadinya kalian berdua. So berpikirlah bahwa ini merupakan keputusan yang terbaik bagian kalian.
  8. Jangan saling menjelek-jelekkan didepan teman-teman, karena ini akan memberi penilaian negatif bagi kamu (nggak dewasa) dan hubungan kalian bakalan jadi nggak enak. Dan teman-teman akan bisa ikut campur lho ke dalam hubungan kalian, karena kemungkinan besar bakal ada orang yang ngomporin kan….
  9. Tutup Kuping. Kalau teman ada yang mau ngajak ngomong tentang dia atau mau kasih informasi tentang dia, mendingan kamu tutup kuping en mulut aja dulu deh…., biar masalahnya tidak tambah ruwet en membuat kamu jadi ingat dia dan jadi sedih lagi.
  10. Terus, kalau kamu sudah merasa kuat, boleh aja mengingat dia tapi segi positifnya dia aja ya, jangan yang negatif. Sehingga kamu tidak merasa dendam atau sakit hati ke dia. So dengan begitu kamu kan masih bisa berteman sama dia…..bukan musuhan. 
Satu hal yang perlu diingatkan bahwa dengan putus cinta ini merupakan waktu bagi kamu untuk mengevalusi diri, dimana sih kekurangan kamu sehingga tidak diulang pada kisah cinta di masa mendatang. Dan yakinlah bahwa setiap masalah akan membuat kita semakin dewasa dan matang serta menambah kekuatan pada mental kita. So jangan kapok untuk pacaran lagi ya!

No comments :

Post a Comment